Ini kisah diawal masaku menjejaki SMAN3 Padang. Sebuah sekolah yang
luas dan memiliki aula yang cukup luas. Mmenurutku begitu, sebab
satu-satunya SMA yang kuliaht langsung hanya SMA 3 dan SMA 1. Itupun
karena proses pendaftaran untuk masuk SMA. Sedangkan SMA lain belum
pernah aku datangi. Nah otomatis SMA 3 menjadi tampak luas karena
perbandingannya dengan SMA 1 sih. Sekarang aku baru tahu, ternyata ada
sekolah-sekolah lain yang jauh lebih luas dari pada SMA3. Hehehehe..
Ternyata dulu aku katrok ya.
Hal yang paling menarik pada saat itu selain perubahan baju
dari biru dongker menjadi abu-abu adalah adanya kebebasan untuk memilih
ekskul. Kau tahu apa ekskul pilihan pertamaku? Tentu saja sebuah ekskul
yang oke punya yaitu olahraga. Aku yang amat suka dengan olahraga basket
ini langsung merasa terlena pada sat para senior memperagakan ekskulnya
pada saat ekskul. Beberapa minggu pertama terasa menyenangkan disana.
Bahkan kegiatan peloncoannyapun aku ikuti. Sayangnya, semakin lama
berada disana, ada rasa tidak nyaman dan tidak menentu. Siswa bari yang
memilih akskul satu ini begitu banyak, bahkan ada yang harus duduk
bertiga bahkan berdiri karena saking penuh sesaknya ruangan kelas saat
dipaksakan semua anggota barunya kumpul dalam satu kelas. Kau tahu apa
akibat nya? Para senior tak mampu untuk membagi perhatian dengan porsi
yang merata keseluruh anggota. Hanya siswa-siswa yang aktif mendekati
mereka saja dan dapat perhatian atau dketahui keberadaannya. Informasi
ekskul tak pernah tersampaikan secara merata. Para seniorpun tak pernah
hadir penuh disetiap pertemuan. Hingga pada akhirnya satu persatu
anggotanya hilang. Termasuk diriku ini.
Pada suatu hari, aku putuskan untuk beralih ke ekskul yang
BRM. Pilihan ini berawal saat aku masih di ekskul olahraga. Pada saat
sedang dijeda istirahat latihan olahraga, aku sempat melihat sebuah
kelas yang berisi senior berwajah tenang dengan pakaian sederhana.
Sejenak hati ini mendesir saat melihat suasana ruangan itu. Seolah-olah
ada rasa rindu akan suasana religi yang mendekatkan diri dengan Allah
swt. Makanya pada saat memutuskanuntuk pindah ekskul, tanpa ragu kupilih
lagi BRM.
Yah, sebenarnya kondisi di BRM pun tak jauh berbeda dengan
ekskul olahraga. Hanya diawal saja yang ramai dan semakin keujung hanya
tersisa beberapa orang saja. Walau begitu, aku memutuskan untuk tetap
bertahan. Entah apa penyebabnya?
Kini baru aku sadari, saat berada disana aku merasa dibutuhkan.
Ada cita-cita mulia yang diemban disana. Ada perhatian yang tulus dari
senior dan alumninya. Ada persaudaraan disana. Walau tak mampu bergerak
banyak pada saat masih berada di BRM (saat itu kehilangan senior yang
bisa dijadikan panutan karena hanya senior kelas 3 yang bertahan di BRM)
tapi kini ku merasakan banyak ibroh yang bisa diambil. Subhanallah..
Source : Bevy Astika Andiny
Sabtu, 18 Februari 2012
Apa Sih BRM Itu..? :)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar