Sabtu, 18 Februari 2012

Apa Sih BRM Itu..? :)

  Ini kisah diawal masaku menjejaki SMAN3 Padang. Sebuah sekolah yang luas dan memiliki aula yang cukup luas. Mmenurutku begitu, sebab satu-satunya SMA yang kuliaht langsung hanya SMA 3 dan SMA 1. Itupun karena proses pendaftaran untuk masuk SMA. Sedangkan SMA lain belum pernah aku datangi. Nah otomatis SMA 3 menjadi tampak luas karena perbandingannya dengan SMA 1 sih. Sekarang aku baru tahu, ternyata ada sekolah-sekolah lain yang jauh lebih luas dari pada SMA3. Hehehehe.. Ternyata dulu aku katrok ya.
        Hal yang paling menarik pada saat itu selain perubahan baju dari biru dongker menjadi abu-abu adalah adanya kebebasan untuk memilih ekskul. Kau tahu apa ekskul pilihan pertamaku? Tentu saja sebuah ekskul yang oke punya yaitu olahraga. Aku yang amat suka dengan olahraga basket ini langsung merasa terlena pada sat para senior memperagakan ekskulnya pada saat ekskul. Beberapa minggu pertama terasa menyenangkan disana. Bahkan kegiatan peloncoannyapun aku ikuti. Sayangnya, semakin lama berada disana, ada rasa tidak nyaman dan tidak menentu. Siswa bari yang memilih akskul satu ini begitu banyak, bahkan ada yang harus duduk bertiga bahkan berdiri karena saking penuh sesaknya ruangan kelas saat dipaksakan semua anggota barunya kumpul dalam satu kelas. Kau tahu apa akibat nya? Para senior tak mampu untuk membagi perhatian dengan porsi yang merata keseluruh anggota. Hanya siswa-siswa yang aktif mendekati mereka saja dan dapat perhatian atau dketahui keberadaannya. Informasi ekskul tak pernah tersampaikan secara merata. Para seniorpun tak pernah hadir penuh disetiap pertemuan. Hingga pada akhirnya satu persatu anggotanya hilang. Termasuk diriku ini.
         Pada suatu hari, aku putuskan untuk beralih ke ekskul yang BRM. Pilihan ini berawal saat aku masih di ekskul olahraga. Pada saat sedang dijeda istirahat latihan olahraga, aku sempat melihat sebuah kelas yang berisi senior berwajah tenang dengan pakaian sederhana.  Sejenak hati ini mendesir saat melihat suasana ruangan itu. Seolah-olah ada rasa rindu akan suasana religi yang mendekatkan diri dengan Allah swt. Makanya pada saat memutuskanuntuk pindah ekskul, tanpa ragu kupilih lagi BRM.
      Yah, sebenarnya kondisi di BRM pun tak jauh berbeda dengan ekskul olahraga. Hanya diawal saja yang ramai dan semakin keujung hanya tersisa beberapa orang saja. Walau begitu, aku memutuskan untuk tetap bertahan. Entah apa penyebabnya?
     Kini baru aku sadari, saat berada disana aku merasa dibutuhkan. Ada cita-cita mulia yang diemban disana. Ada perhatian yang tulus dari senior dan alumninya. Ada persaudaraan disana. Walau tak mampu bergerak banyak pada saat masih berada di BRM (saat itu kehilangan senior yang bisa dijadikan panutan karena hanya senior kelas 3 yang bertahan di BRM) tapi kini ku merasakan banyak ibroh yang bisa diambil. Subhanallah..

Source : Bevy Astika Andiny

Tidak ada komentar:

Posting Komentar