Pro dan kontra mengenai komik sudah berlangsung bertahun-tahun. Bagi
penggemarnya, komik merupakan hiburan yang sangat menyegarkan. Banyak
pula yang menganggapnya sebagai media pembelajaran yang sangat
menarik. Namun bagi penentangnya, komik dianggap sebagai buku haram
yang tidak berharga. Bagi mereka, komik hanya menjadi penghancur
imajinasi.
- Komik merupakan media pembelajaran yang sangat potensial.
Aspek visual merupakan salah satu yang ditawarkan oleh komik.
Berbeda dengan televisi yang lebih memaksa mata dan telinga, komik
mendorong kita untuk mengoptimalkan mata untuk mencermati panel-panel
dan teks yang disertakan. Kebanyakan orang merupakan pembelajar visual
yang mengasosiasikan kepingan informasi dengan imaji tertentu (Ascott
2006). Jadi, komik dapat dipakai untuk menolong -- khususnya
anak-anak -- dalam pembelajaran pada hampir seluruh topik, misalnya
sebagaimana dikemukakan berikut ini.
- Mengenal konsep
Anda tentu tahu poster alfabet yang dilengkapi dengan gambar-gambar.
Itu merupakan salah satu contoh pemanfaatan gambar untuk
memperkenalkan suatu konsep tertentu, dalam hal ini alfabet.
- Belajar berhitung
Masih ingat komik Doraemon? Karakter karya Fujiko F. Fujio ini
termasuk paling dicintai anak-anak. Beberapa tahun yang lalu, komik
Doraemon edisi belajar berhitung juga diterbitkan. Komik-komik seperti
ini tentu sangat bermanfaat dan menolong karena menghadirkan nuansa
belajar yang menyenangkan bersama tokoh kesayangan.
- Mengenal lingkungan dan alam sekitar
Komik yang memperkenalkan lingkungan dan alam sekitar juga sangat
bermanfaat bagi anak-anak. Anda tidak mungkin membawa anak-anak ke
masa dinosaurus untuk memperkenalkan mereka kepada Tyranosaurus,
misalnya. Anak-anak pun bisa diperkenalkan pada berbagai jenis
tumbuhan dan hewan melalui komik.
- Memperkenalkan firman Tuhan.
Dulu ada enam seri komik Alkitab Bergambar untuk Semua Umur,
terbitan Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF. Buah karya Iva Hoth dan
Andre Le Blanc ini merupakan salah satu komik yang bermanfaat untuk
memperkenalkan isi Alkitab dan tokoh-tokohnya kepada anak-anak.
- Membantu untuk memahami cerita.
Alur cerita yang dituangkan dalam panel-panel gambar akan membantu
mereka melihat jalan cerita. Ilustrasi-ilustrasi yang sesuai dalam
sebuah komik jelas membantu anak-anak maupun mereka yang ingin
menikmati sebuah cerita, namun belum lancar membaca.
- Mendorong minat baca.
Komik juga membantu untuk membangkitkan minat baca anak-anak. Jaya
Suprana (dalam Sofwan 2007) mengaku kalau minat bacanya tumbuh akibat
membaca komik Mahabharata semasa kecilnya.
- Komik juga mengajarkan nilai-nilai moral.
Sejumlah komik menghadirkan nilai-nilai moral yang penting dikenal
oleh siapa saja. Sebut saja nilai persahabatan, kerja keras,
kebersamaan, kegigihan dan semangat pantang menyerah. Perhatikanlah
komik-komik Jepang -- saya sengaja mengangkat komik Jepang karena
komik inilah yang saat ini merajai pasar -- banyak mengangkat
nilai-nilai tersebut. Komik olah raga umumnya mengajarkan nilai kerja
keras, kegigihan, dan semangat pantang menyerah. Pesan umum yang
disampaikan biasanya "semakin gigih kamu berusaha, semakin dekat pula
dirimu pada keberhasilan". Prinsip alkitabiah seperti "kasihilah
musuhmu" juga bisa ditemukan. Nilai-nilai ini bisa dilihat dari komik,
seperti "Shoot!", "Kungfu Boy", "Harlem Beat", dan lain-lain.
- Komik merupakan sarana hiburan yang tidak memakan waktu.
Untuk mengisi kejenuhan, komik bisa menjadi alternatif yang sangat
cocok. Waktu yang dibutuhkan untuk membaca komik tidak seperti ketika
membaca novel. Sebab ada banyak yang dapat diringkas oleh komik,
misalnya penggambaran ekspresi wajah dan penjelasan latar tempat.
- Komik membatasi bahkan memungkinkan penumpulan imajinasi
Terlalu banyak mengonsumsi komik pada bisa menumpulkan imajinasi
pembaca. Perhatikanlah prosa, seperti novel atau cerpen yang banyak
menggambarkan wajah tokoh tertentu dengan kata-kata daripada gambar.
Pembaca diajak untuk membayangkan seperti apa wajah tokoh tersebut.
Atau ketika penulis menggambarkan latar tempat. Aspek-aspek inilah
yang dalam komik diterjemahkan dalam gambar dan membuat pembaca
langsung menikmatinya, tanpa harus membayangkan penggambaran tersebut
lewat pikirannya. Mula-mula, imajinasi hanya terbatas pada apa yang
digambarkan. Namun akhirnya, imajinasi bisa tumpul. Misalnya, hanya
bisa membayangkan latar tempat sebagaimana digambarkan pada komik atau
hanya bisa menggambar tokoh-tokoh seperti yang digambarkan komikus
terkait.
Butir ini memang masih dapat diperdebatkan. Sebab banyak komikus
ternama yang mengaku mendapat inspirasi dan meluaskan imajinasinya
dari karya-karya komikus lain. Misalnya, Masashi Kishimoto (penulis
"Naruto" mengaku terinspirasi oleh "Dragon Ball"-nya Akira Toriyama. - Tidak mampu menikmati dan mengapresiasi karya-karya sastra
Ketidakmampuan untuk menggunakan imajinasi akhirnya bisa membuat
kita sulit menangkap penggambaran yang diberikan cerpen atau novel.
Kalaupun dapat, pembayangan yang kita miliki mungkin hanya terpaku
pada pengalaman kita pada latar lingkungan yang ditampilkan komik.
Akhirnya, kita bisa kesulitan untuk merasakan keindahan kosakata yang
dipakai penulis. Padahal apresiasi prosa menjadi bagian pelajaran
bahasa Indonesia yang masih harus dijalani para siswa, minimal sampai
tingkat SMA.
- Komik menimbulkan efek adiktif.
- Komik lebih eksplisit menggambarkan adegan.
Adegan-adegan kekerasan dan bernuansa pornografi juga tergambar
dengan lebih jelas dalam komik. Hal ini sudah pasti tidak akan baik
bila dikonsumsi oleh anak-anak di bawah umur. Beberapa komik juga
mengikuti praktik atau kebiasaan yang berkenaan erat dengan okultisme
(misalnya, pada komik seri-seri misteri), sedangkan yang lain
dikaitkan dengan masalah-masalah sosial seperti homoseksualitas dan
penyalahgunaan obat-obatan (Lorelli 2006). Kondisi ini diperparah
dengan anggapan bahwa komik merupakan konsumsi anak-anak. Memang kini
ada pelabelan, meski hal ini tidak banyak berpengaruh.
Efek adiktif yang timbul bisa berupa keinginan untuk segera menikmati seri sambungan (umumnya karena penasaran) atau sekadar membaca lebih banyak komik lainnya. Efeknya, selain menghabiskan banyak dana untuk menyewa atau membeli edisi demi edisi, rasa penasaran juga bisa mendorong kita untuk lebih banyak menghabiskan waktu bersama komik.
Sumber : R.S Kurnia

